Perjalanan mudik kemarin (3/9/2010) saya sudah menyiapkan uang lebih untuk mengantisipasi kenaikan tarif angkutan umum mejelang hari raya. Dalam mudik tersebut saya akan menaiki 3 kendaraan umum yang berbeda.
Pertama adalah angkutan kota (angkot). Untuk angkot ini rupanya tidak ada kenaikan tarif, masih sama seperti hari biasa. Yang ke dua adalah bus antarkota-antarpropinsi. Bus inipun masih meggunakan tarif yang sama, walau untuk beberapa bus memang memiliki tarif yang berbeda, tapi perbedaannya masih sama dengan hari-hari biasa.
Ke tiga adalah bus mini, bus yang entah berasal dari negara mana, saya tidak tahu. Setiap hari raya setiap tahunnya, bus-bus ini selalu menerapkan tarif berdasarkan kementrian perhubungan mereka sendiri. Waktu tarif belum naik, mereka sudah naik 20%. Sedang saat tarif dinaikkan mereka menaikkan tarifnya duakali lipat atau lebih dari kenaikan tarif yang ditetapkan pemerintah.
Pemikiran Dagelan
Saturday, September 4, 2010
Wednesday, September 1, 2010
Mr. Nobody (Resensi Film); Takdir
Malam ini saya teringat salah satu adegan dalam Mr. Nobody. Adegan di suatu sudut kota, di Amerika, ketika sang tokoh utama akan berpisah dengan sang kekasih untuk kemudian bertemu lagi pada suatu waktu di masa yang akan datang. Sang tokoh utama diberi nomor telepon sang kekasih agar di masa yang akan datang dapat membuat janji, sebuah janji pertemuan. Sang kekasihpun meninggalkannya dan pada saat bersamaan hujan gerimis datang. Sebutir hujan gerimis jatuh dari awan yang mengembun, jatuh tepat di nomor telepon yang tertulis di kertas yang dipegang oleh sang tokoh utama. Sang tokoh utama pun terkaget-kaget karena hanya nomor telepon itulah satu-satunya kontak yang dia miliki untuk menghubungi sang kekasih di masa datang.
Kemudian narasipun muncul. Narasi ini menjelaskan bahwa perpisahan antara sang tokoh utama dan kekasihnya tersebut tidaklah terjadi saat nomor telepon tersebut terhapus oleh sebutir air hujan, akan tetapi mereka berdua sudah terpisah jauh sebelum saat tersebut. Yaitu beberapa bulan sebelum peristiwa tersebut, ketika seorang pemalas dari Brazil yang sedang merebus telur di rumahnya. Pemalas tersebut tidak segera mematikan kompor yang sudah mendidihkan air untuk merebus telur. Akibatnya air yang menguap berlebihan dari wadah perebus telur tersebut menguap terbang melalui saluran pembuangan asap di rumah si pemalas. Uap tersebut terus terbang membumbung tinggi hingga akhirnya bergabung bersama awan yang sudah ada sebelumnya di langit. Awan ini kemudian selama beberapa bulan awan tersebut bergerak ke utara dan tibalah di lokasi perpisahan si tokoh utama dengan sang kekasih. Uap yang spesifik dari rebusan telur dari si pemalas yang berada di Brazil beberapa bulan yang lalu jatuh mengembun menjadi sebutir gerimis yang akhirnya menghapus nomor telepon sang kekasih dari si tokoh utama.
Dua paragraf di atas adalah sebagian adegan favorit saya. Masih ada banyak sekali adegan yang dengan jelas (menurut saya) menggambarkan mengenai konsekuensi sebuah pilihan yang menuntun kepada hukum sebab-akibat yang sangat kompleks. Dan yang terpenting adalah di setiap pilihan tidak selalu merupakan pilihan benar dan salah. Semua bisa saja benar, semua bisa saja salah. Karena di setiap pilihan akan memunculkan pilihan berikutnya, dan pilihan berikutnya akan memunculkan pilihan berikutnya lagi dan seterusnya. Selalu saja ada kesempatan untuk bahagia.
note: Uhmp.., karena banyak adegan untuk orang dewasanya, saya tidak menyarankan untuk dilihat bersama anak dibawah umur.
Semoga kita semua bahagia, pada akhirnya...
Tuesday, August 31, 2010
Tarawih Tidak Wajib
Dari situs http://www.almanhaj.or.id/content/2800/slash/0, saya menemukan penggalan hadis berikut:
Dari penggalan hadis di atas tampak jelaslah bahwa pada dasarnya solat tarawih adalah sebenar-benarnya ibadah yang kadarnya adalah sunnah. Bahkan jelas pula tidak harus dilakukan secara berjamaah di masjid atau di manapun.
Kesimpulannya adalah jangan terbebani dengan ibadah tarawih, lakukan sewajarnya dan tidak usah merasa berdosa ketika memang tidak bisa berjamaah solat tarawih.
Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha : “Pada suatu malam Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu beberapa orang bermakmum kepada Beliau. Kemudian malam berikutnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat, dan orang (makmum) bertambah banyak. Mereka pun berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar. Pagi harinya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ رواه البخاري
"Aku telah melihat perbuatan kalian. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian (untuk shalat), kecuali kekhawatiranku, kalau-kalau itu difardhukan atas kalian". [Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam At Tahajjud, Bab: Tahridhu An Nabi ‘Ala Shalat Al Lail, no. 1.129 dan Muslim dalam Shalat Al Musafirin, Bab: At Targhibu Fi Qiyami Ramadhan, no. 177 (761).]
Dari penggalan hadis di atas tampak jelaslah bahwa pada dasarnya solat tarawih adalah sebenar-benarnya ibadah yang kadarnya adalah sunnah. Bahkan jelas pula tidak harus dilakukan secara berjamaah di masjid atau di manapun.
Kesimpulannya adalah jangan terbebani dengan ibadah tarawih, lakukan sewajarnya dan tidak usah merasa berdosa ketika memang tidak bisa berjamaah solat tarawih.
Friday, August 20, 2010
Tips Trik Tarawih (Tahan Lama Berdiri)
Ramadhan telah berjalan lebih dari satu minggu. Selama waktu tersebut saya yang kurus ini harus menjalankan ibadah wajib sebagai umat islam untuk menjalankan puasa, tidak makan dari waktu subuh (terbit fajar) hingga datang waktu maghrib (matahari tenggelam). Kemudian usai sholat isyak, yaitu saat matahari telah tenggelam sempurna dan cahaya matahari tak bersisa, ada lagi ibadah tambahan yang tidak kalah melelahkan dan menguji iman, sholat tarawih!
Sholat tarawih di tempat saya, Surabaya, terdapat dua pilihan, yaitu sholat delapan rokaat atau dua puluh rokaat dan saya memilih dua puluh rokaat. Jumlah rakaat panjang yang saya pilih ini sangat menguras stamina. Apalagi jika imam sholatnya adalah orang-orang yang tergolong sangat khusuk dalam beribadah, beuh, bisa kemeng (pegal-pegal) karena saking lamanya berdiri. Saya memiliki trik sendiri dalam menghadapi lamanya berdiri ketika sholat, berdirilah dengan kaki seperti posisi “istirahat di tempat” pada latihan baris-berbaris. Dengan posisi kaki agak direnggangkan sejajar dengan pundak, maka beban yang ditanggung oleh kedua kaki kita akan sedikit lebih rata dibandingkan dengan posisi kaki yang merapat. Untuk lebih jelas dengan apa yang saya maksudkan, silahkan lihat gambar ilustrasi berikut.
Gambar “a.” adalah gambar untuk posisi kaki rapat. Dapat dilihat bahwa beban dari pundak tidak tersangga dengan baik oleh kaki. Posisi ini berbahaya, mengapa? Karena sedikit saja kita ngantuk, maka kita terancam akan jatuh dengan memalukan! Wkwkwk... Gambar “b.” adalah gambar posisi kaki yang saya maksudkan. Beban pada pundak dapat disangga oleh kaki dengan sedikit lebih sempurna. Keseimbangan lebih merata.
Lalu apakah posisi ini boleh? Tentu saja malah posisi “b,” inilah yang disunahkan. Tidakkah anda ingat dengan perintah untuk merapatkan shaff (barisan) sholat? Dengan posisi demikian maka letak ujung terluar dari telapak kaki kita akan merapat bersentuhan dengan jamaah yang ada di sebelah kita. So, bagaimana? Sudahkan tulisan ini mensugesti anda untuk lebih semangat dan mencoba posisi ini?
Sholat tarawih di tempat saya, Surabaya, terdapat dua pilihan, yaitu sholat delapan rokaat atau dua puluh rokaat dan saya memilih dua puluh rokaat. Jumlah rakaat panjang yang saya pilih ini sangat menguras stamina. Apalagi jika imam sholatnya adalah orang-orang yang tergolong sangat khusuk dalam beribadah, beuh, bisa kemeng (pegal-pegal) karena saking lamanya berdiri. Saya memiliki trik sendiri dalam menghadapi lamanya berdiri ketika sholat, berdirilah dengan kaki seperti posisi “istirahat di tempat” pada latihan baris-berbaris. Dengan posisi kaki agak direnggangkan sejajar dengan pundak, maka beban yang ditanggung oleh kedua kaki kita akan sedikit lebih rata dibandingkan dengan posisi kaki yang merapat. Untuk lebih jelas dengan apa yang saya maksudkan, silahkan lihat gambar ilustrasi berikut.
Gambar “a.” adalah gambar untuk posisi kaki rapat. Dapat dilihat bahwa beban dari pundak tidak tersangga dengan baik oleh kaki. Posisi ini berbahaya, mengapa? Karena sedikit saja kita ngantuk, maka kita terancam akan jatuh dengan memalukan! Wkwkwk... Gambar “b.” adalah gambar posisi kaki yang saya maksudkan. Beban pada pundak dapat disangga oleh kaki dengan sedikit lebih sempurna. Keseimbangan lebih merata.
Lalu apakah posisi ini boleh? Tentu saja malah posisi “b,” inilah yang disunahkan. Tidakkah anda ingat dengan perintah untuk merapatkan shaff (barisan) sholat? Dengan posisi demikian maka letak ujung terluar dari telapak kaki kita akan merapat bersentuhan dengan jamaah yang ada di sebelah kita. So, bagaimana? Sudahkan tulisan ini mensugesti anda untuk lebih semangat dan mencoba posisi ini?
Semoga ibadah kita diterima Tuhan Yang Maha Esa, amien.
Saturday, August 14, 2010
Mempertanyakan Doa
Untuk apa sebenarnya kita berdoa? Terhadap segala sesuatu yang kita inginkan dan sekiranya sulit untuk didapatkan selalu saja disarankan untuk berusaha dan berdoa. Ada juga saran agar selalu berdoa memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan di masa lalu dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Satu hal lagi, jika kita sedang khawatir tentang keselamatan seseorang yang berada jauh dari jangkauan, maka disarankan juga berdoa memohonkan keselamatan orang yang kita khawatirkan tersebut. Mengapa? Akankah Tuhan benar-benar mengabulkan doa kita kemudian Dia mengutus malaikat atau apa saja dan siapa saja untuk mewujudkan doa kita? Gratis? Seperti dengan abra kadabra dan cling langsung jatuh dari langit? Bisa saja demikian, karena itu semua kuasa Tuhan.
Dalam Islam ada suatu ayat dalam kitab sucinya yang kurang lebih isinya adalah sebagai berikut: "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut megubah nasib mereka sendiri". Nah tuh kan! Perubahan tidak akan terjadi cukup hanya dengan doa, tapi juga perlu adanya suatu usaha dan bukan sebaliknya. Lalu apa gunanya doa?
Jika kita menginginkan sesuatu di masa yang akan datang menjadi seperti yang kita inginkan, maka kita harus berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Sekali lagi usaha mati-matian (sungguh-sungguh)! Sedangkan doa yang diucapkan setiap hari tentang sesuatu tersebut berfungsi sebagai penancapan sebuah visi. Visi yang setiap saat dideklarasikan agar tetap semangat dan bergairah dalam meraih sesuatu yang diinginkan tersebut.
Lalu bagaimana dengan doa untuk memohon ampun atas kesalahan di masa lalu? Bukankah hal tersebut merupakan doa murni dan tanpa usaha? Eit tunggu dulu, pertama kita harus sadar bahwa segala hal yang telah terjadi di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi. Kita harus merelakannya atau dengan kata lain memaafkan diri sendiri terlebih dahulu. Doa membantu kita dalam mensugesti pikiran dan ingatan kita untuk memaafkan diri sendiri tentang hal yang terjadi di masa lalu. Selain itu permohonan ampun juga menyegarkan ingatan bahwa kita sedang bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di masa lampau. Di sinilah letak usaha dari sebuah penyesalan atas kesalahan yang terjadi di masa lalu. Dalam agama diberikan penilaian berupa pahala dan dosa. Dosa adalah kesalahan yang telah dilakukan dan pahala adalah usaha kita untuk menghapus dosa, setidaknya jumlah pahala (kebaikan yang dilakukan) bisa menutupi kesalahan yang telah dilakukan (Insya Allah jika mood saya baik, akan saya tuliskan secara khusus pandangan saya tentang pahala dan dosa).
Bagaimana dengan mendoakan orang lain yang jauh dari jangkauan kita? Ketika kita sedang mengkhawatirkan seseorang yang berada di luar jagkauan kita, pada dasarnya kita sendirilah yang membutuhkan pertolongan. Pertolongan yang dimaksud di sini adalah pertolongan psikologis. Dengan merasa khawatir maka konsentrasi pikiran akan terganggu, dan masalah lain yang bisa dihadapi dan diselesaikan malah jadi terabaikan. Dengan mendoakan maka kita sedang mensugesti bahwa seseorang yang di luar jangkauan tersebut akan baik-baik saja. Lho katanya doa harus selalu ada usahanya? Eh tapi, eh tapi, mensugesti bahwa orang lain tersebut baik-baik saja juga merupakan usaha lho!
Btw tulisan ini saya tujukan kepada diri saya sendiri. Tidak ada maksud saya untuk mengesampingkan keberadaan Tuhan. Tuhan telah menciptakan mekanisme alam yang begitu luar biasa sempurnanya. Alam ini adalah medan laga yang sangat adil bagi setiap manusia. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang hanya bisa dimengerti oleh setiap individu manusia itu sendiri. Karena definisi kebahagiaan dari masing-masing kita berbeda-beda, tentunya.
aku yang mencintaimu adalah definisi kebahagiaanku saat ini
Subscribe to:
Posts (Atom)

